Postingan

Merajut Renyahnya Tradisi: Bergerak Bersama JNE Mengantarkan Sepotong Sejarah Nagan Raya

Gambar
     Indonesia adalah sebuah mahakarya peradaban yang terbentang sebagai negeri kepulauan terbesar di dunia. Kekayaan peradaban ini tidak hanya tecermin dari keragaman suku, bangsa, bahasa, dan adat istiadat, tetapi juga termanifestasi dalam cita rasa kuliner unik dari setiap daerah. Bukanlah sekadar kuliner melainkan sebuah kanvas yang merefleksikan identitas, sejarah, dan kekayaan budaya. Di antara ribuan warisan kuliner, salah satu ikon dari Kabupaten Nagan Raya , Provinsi Aceh , yang dikenal sebagai Kue Karah . (Foto Kue Karah Diposting oleh Wilda Yusmitha Ramadhani 2 September 2019 pada Blogspot)   Kue karah bukan sekadar kudapan, di setiap helai renyahnya tersimpan warisan budaya (intangible cultural heritage) dan sejarah yang melekat erat pada masyarakat lokal. Bentuknya yang menyerupai jaring atau sarang laba-laba dibuat dari campuran tepung beras dan santan yang digoreng dengan teknik khas. Rasanya yang gurih dan manis menjadi pengingat akan kenangan masa l...

Baitullah di Hati, Istanbul di Jiwa

Gambar
  Baitullah di Hati Istanbul di Jiwa   Ilustrasi Conten Creator asal Turki (sumber/Istockphoto.com) Di sebuah kota kecil bernama Meulaboh, Aceh Barat, hiduplah seorang pemuda bernama Teuku Muhammad Farez Aldebaran. Ia bukanlah sosok biasa Farez adalah seorang penulis yang telah menorehkan tinta di dunia literasi dengan lebih dari 2000 artikel dan lima novel yang diterbitkan. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah novel berjudul "Baitullah di Hati, Istanbul di Jiwa", sebuah kisah yang mengangkat persahabatan antara Aceh dan Turki di masa lalu. Novel ini mengisahkan sebuah periode bersejarah ketika Aceh menghadapi larangan dari Portugis untuk pergi menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Dalam kondisi itu, Aceh meminta bantuan persenjataan kepada Pemerintah Turki Utsmani. Turki pun mengabulkan permintaan tersebut dengan mengirimkan alat-alat perang seperti meriam yang sangat dibutuhkan Aceh untuk mempertahankan diri dan mengirimkan bala tentara dengan pembuktian makam Tengku...

Perahu Kertas & Kisah Pahlawan

Gambar
sumber: Ilustrasi bermain perahu kertas Dejan Marjanovic Siang itu, hujan turun dengan sangat lebat di kediaman yang asri. Cut Ara, gadis cantik berumur sembilan tahun, duduk termenung di teras rumah sambil menatap derasnya hujan yang membasahi halaman. Ia bersama temannya, Syarifah, baru saja pulang sekolah. Rencana mereka untuk bermain di luar harus batal karena cuaca yang tidak bersahabat. “Cut, main apa kita? Di luar sedang hujan lebat,” ujar Syarifah dengan wajah sendu, kecewa karena tidak bisa bermain seperti biasanya. Cut tersenyum dan mengusulkan, “Bagaimana kalau kita membuat perahu kertas, Syarifah? Kita bisa main di dalam rumah sambil menunggu hujan reda.” Syarifah mengangguk antusias. Mereka segera mencari kertas warna-warni di meja belajar. Cut mulai mengajari Syarifah cara melipat kertas menjadi perahu. “Pertama, kita lipat kertasnya jadi dua bagian dulu, lalu lipat lagi membentuk segitiga,” jelas Cut sambil menunjukkan langkah demi langkah. Syarifah mengikuti dengan seks...

Cerita Syahrul Gama Mubarak: Kehangatan di Tengah Jauh dari Kampung Halaman

Gambar
Ilustrasi kiriman Paket (unsplas.com/sasilsolutions) Di sebuah kamar kos sederhana di kawasan Darussalam, Banda Aceh, suasana malam mulai menyelimuti. Lampu kamar yang redup menerangi meja belajar yang penuh dengan buku dan catatan kuliah. Di sudut ruangan, sebuah kipas angin berputar pelan, mengusir udara hangat yang membuat suasana terasa nyaman meski ruangannya kecil. Suara kendaraan yang lalu lalang di jalan dekat kos dan obrolan teman-teman kos di teras terdengar samar, menambah kesan hidup yang sederhana namun penuh makna. Syahrul Gama Mubarak, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, duduk termenung di kursi kayu yang sudah agak usang. Sudah beberapa hari ini dompetnya menipis, dan hari ini adalah akhir bulan yang membuatnya benar-benar kehabisan uang. Ia menatap kosong layar laptop yang terbuka di depannya, sesekali mengusap wajah lelah setelah seharian beraktivitas.  “Gimana nih, makan apa ya besok? Uang sudah habis, belum ada kiriman dari orang tua,” gumam Syahr...