Baitullah di Hati, Istanbul di Jiwa
Baitullah di Hati Istanbul di Jiwa
Di sebuah kota kecil bernama Meulaboh, Aceh Barat, hiduplah seorang pemuda bernama Teuku Muhammad Farez Aldebaran. Ia bukanlah sosok biasa Farez adalah seorang penulis yang telah menorehkan tinta di dunia literasi dengan lebih dari 2000 artikel dan lima novel yang diterbitkan. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah novel berjudul "Baitullah di Hati, Istanbul di Jiwa", sebuah kisah yang mengangkat persahabatan antara Aceh dan Turki di masa lalu.
Novel ini mengisahkan sebuah periode bersejarah ketika Aceh menghadapi larangan dari Portugis untuk pergi menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Dalam kondisi itu, Aceh meminta bantuan persenjataan kepada Pemerintah Turki Utsmani. Turki pun mengabulkan permintaan tersebut dengan mengirimkan alat-alat perang seperti meriam yang sangat dibutuhkan Aceh untuk mempertahankan diri dan mengirimkan bala tentara dengan pembuktian makam Tengku Dibitay (Selahaddin).
Sebagai balasannya, Aceh memberikan secupak lada komoditas berharga pada masa itu kepada Turki. Kisah dalam buku ini bukan hanya tentang peperangan dan diplomasi, tetapi juga tentang persahabatan dan solidaritas antar dua bangsa yang berjauhan secara geografis namun dekat dalam ikatan sejarah dan budaya.
Farez memulai karier menulisnya dengan penuh tantangan. Awalnya, ia sempat ragu dan bahkan berhenti menulis karena hinaan dari teman-temannya yang tidak percaya bahwa ia bisa sukses sebagai penulis. Namun, dorongan hati dan kecintaannya pada literasi membuatnya bangkit kembali. Kini, karya-karyanya telah dikenal luas, dan novel "Baitullah di Hati, Istanbul di Jiwa" mendapatkan penghargaan dari Kedutaan Besar Turki sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam mempererat hubungan budaya kedua negara.
***
Di belahan dunia lain Langit Istanbul sore itu berwarna jingga tua, menambahkan kesan cahaya keemasan di atas Istanbul yang menjulang. Dari jendela kecil di kamar Hülya Aiyla Filiz, yang merupakan seorang pembaca fanatik yang rutin membuat konten review buku di TikTok, dengan followers yang sangat banyak. Ketika ia menemukan novel Baitullah Di hati Istanbul di Jiwa yang di tulis Farez di berandanya, ia langsung tertarik dan memutuskan membeli buku tersebut.
Setelah seminggu lamanya ia menunggu hari ini adalah hari kedatang novelnya. Di sebuah kamar kecil yang hangat dan nyaman di pinggir kota Istanbul, Hülya duduk di depan meja kayu sederhana. Di luar jendela, terlihat siluet kota Istanbul dengan kubah masjid dan menara yang menjulang, menambah nuansa indah malam itu. Segelas cankir teh hangat yang mengepul, beberapa alat tulis, dan laptop terbuka di sampingnya. Di pojok meja, ada vas kecil berisi bunga segar, menambah sentuhan manis pada ruangan. Dinding kamar dihiasi beberapa foto keluarga dan lukisan kecil bergaya Turki.
Hülya duduk dengan ekspresi antusias, matanya sesekali melirik ke arah pintu, menanti-nanti kedatangan kurir JNE International Express. Ia membayangkan paket berisi novel dari Indonesia yang akan segera tiba.
Ketika akhirnya suara bel pintu berbunyi, Hülya bergegas membukanya. Ia menerima paket JNE berwarna khas, dengan logo "Inspirasi Tanpa Batas Sat-Set" yang mencolok. Dengan hati-hati dan penuh semangat, ia kembali ke meja, membuka paket itu perlahan sambil tersenyum lebar. Kamera menyala, Hülya duduk di depan meja, paket JNE sudah terbuka, novel Farez di tangannya.
(Hülya)
"Hai, teman-teman TikTok! Selamat malam dari Istanbul! Hari ini aku super excited karena akhirnya paket novel dari Indonesia sudah sampai!”
Hülya pun menunjukkan paket JNE ke kamera dengan sangat antusias mereviev buku tersebut
"Lihat, ini dia paketnya, dikirim pakai JNE International Express Inspirasi Tanpa Batas, Sat-Set banget! Benar-benar cepat dan aman sampai ke sini. Covernya bagus, aestetic banget! Ada yang sudah baca juga? Tulis di kolom komentar, ya!"
Hülya mulai membuka halaman pertama, suara antusias
"Novel ini mengangkat kisah persahabatan yang mendalam antara Aceh dan Turki, penuh dengan inspirasi dan nilai sejarah yang sangat kaya”.
"Aku mau baca sedikit bagian awalnya buat kalian, biar kita bisa ngerasain vibes-nya bareng-bareng".
"Dari Selat Bosphorus ke Selat Malaka, Persaudaraan Tak Berbatas."
"Wow, dari paragraf pertama aja udah bikin penasaran! Bahasa penulisnya indah banget, dan aku suka gimana ceritanya langsung menarik perhatian."
(Farez)
"Astaga, ada yang review novelku! Dan dia live! Aku harus kirim pesan."
Farez segera mengirim pesan lewat chat live Hulya. Hulya melihat ke kamera, dengan ekspresi excited
(Hülya)
Aku sangat terkesan dengan bagaimana penulis, Farez, berhasil menggambarkan perjuangan dan solidaritas dua bangsa ini dengan sangat hidup dan menyentuh. Ceritanya bukan hanya fresh dan menarik, tapi juga membawa kita menyelami nuansa budaya yang kental dari kedua negeri tersebut”.
(Farez)
"Halo Hülya, aku Teuku Muhammad Farez Aldebaran, penulis novel yang sedang kamu review. Terima kasih banyak sudah membaca dan mengapresiasi karyaku."
(Hülya)
"Halo Farez! Senang sekali bisa berkomunikasi denganmu. Novelmu sangat membuka wawasan dan menginspirasi aku. Aku benar-benar menikmati ceritanya!. Suatu kehormatan kamu bisa hadir ke dalam live”.
Farez terdiam sejenak, senyum kecil menghiasi wajahnya.
"Aku senang sekali bisa diundang ke live TikTok ini, Terimakasih Hülya ," ujarnya dengan antusias.
(Hülya)
"Kami juga senang, Farez. Ceritakan dong, bagaimana sebenarnya hubungan Aceh dan Turki bisa terjalin, walau jaraknya sangat jauh?"
Farez mengangguk, mulai bercerita, "Sebenarnya, hubungan Aceh dan Turki sudah terjalin sejak lama. Meskipun terpisah oleh ribuan mil, mereka tetap bersahabat erat. Bahkan, ada suatu kondisi di mana Aceh ingin bergabung dan menjadi bagian dari negara Turki."
Hülya terlihat penasaran, "Wah, serius? Lalu bagaimana tanggapan Turki saat itu?"
Farez menjelaskan dengan penuh semangat, "Sayangnya, Kekaisaran Turki menolak permintaan itu. Mereka tidak ingin menguasai Nusantara secara politik. Namun, hubungan persaudaraan tetap dijaga dengan baik. Turki juga membantu Aceh secara militer saat dibutuhkan, terutama ketika Aceh melawan kolonialisme."
Hülya mengangguk kagum, "Itu luar biasa! Jadi, meskipun tidak secara politik, persaudaraan dan dukungan tetap terjalin erat."
Farez tersenyum, "Betul sekali. Itu yang membuat hubungan Aceh dan Turki begitu istimewa, sebuah persahabatan yang melampaui jarak dan waktu."
"Terimakasih banyak Farez telah bergabung live bersamaku, dan menceritakan sedikit kisah persaudaraan Turki dan Aceh sampai saat ini, semoga kita bisa bertemu secara langsung dan menceritakan berbagai hall menariknya kedepan”
Iya sama-sama Hülya” Farez pun langsung keluar dari live Hülya karena perbedaan waktu yang sangat kentara
"Nah Buat teman-teman yang suka membaca, terutama karya-karya penulis Indonesia, aku sangat merekomendasikan Baitullah di Hati Istanbul di Jiwa. Novel ini bukan hanya menghibur, tapi juga membuka wawasan kita tentang sejarah dan kebudayaan yang jarang kita temui dalam bacaan sehari-hari. Dijamin, kalian akan dibawa ke sebuah dunia yang berbeda dan penuh makna.
"Dan yang paling penting, pengirimannya super cepat! Makasih banget buat JNE yang udah bikin aku bisa baca novel ini tanpa harus nunggu lama. Benar-benar inspirasi tanpa batas!"
"Kalian mau aku lanjut bacain bagian favoritku dari novel ini? Atau ada rekomendasi novel Indonesia lain yang harus aku coba? Tulis di chat, ya! Aku bakal baca dan kasih review jujur buat kalian semua".
"Terima kasih sudah nonton live aku malam ini. Jangan lupa follow biar nggak ketinggalan review buku-buku keren lainnya! Sampai jumpa di live berikutnya!
Bye-bye!"
***
#JNE #ConnectingHappiness #JNE34SatSet #JNE34Tahun #JNEContentCompetition2025 #JNEInspirasiTanpaBatas
TENTANG PENULIS
Syazwa Nur Maulidina seorang mahasiswa aktif Pendidikan Sejarah di Universitas Syiah Kuala, yang memiliki minat dalam membaca dan menulis. Aktif dalam mengikuti kegiatan penulisan, “Setiap kalimat adalah pengabdian, setiap paragraf adalah langkah menuju perubahan.” Kalian bisa menyapanya di @Syazwaaaanm_ atau @Penasyaz_

Komentar
Posting Komentar