Perahu Kertas & Kisah Pahlawan

sumber: Ilustrasi bermain perahu kertas Dejan Marjanovic

Siang itu, hujan turun dengan sangat lebat di kediaman yang asri. Cut Ara, gadis cantik berumur sembilan tahun, duduk termenung di teras rumah sambil menatap derasnya hujan yang membasahi halaman. Ia bersama temannya, Syarifah, baru saja pulang sekolah. Rencana mereka untuk bermain di luar harus batal karena cuaca yang tidak bersahabat.

“Cut, main apa kita? Di luar sedang hujan lebat,” ujar Syarifah dengan wajah sendu, kecewa karena tidak bisa bermain seperti biasanya.

Cut tersenyum dan mengusulkan, “Bagaimana kalau kita membuat perahu kertas, Syarifah? Kita bisa main di dalam rumah sambil menunggu hujan reda.”

Syarifah mengangguk antusias. Mereka segera mencari kertas warna-warni di meja belajar. Cut mulai mengajari Syarifah cara melipat kertas menjadi perahu. “Pertama, kita lipat kertasnya jadi dua bagian dulu, lalu lipat lagi membentuk segitiga,” jelas Cut sambil menunjukkan langkah demi langkah.

Syarifah mengikuti dengan seksama, meskipun beberapa kali lipatannya kurang rapi. Setelah beberapa menit, akhirnya mereka berhasil membuat beberapa perahu kertas yang lucu dengan warna-warni cerah.

“Kita taruh perahu ini di genangan air di halaman belakang,” kata Cut sambil membuka pintu belakang. Meski hujan masih turun, genangan air di halaman cukup untuk mengapungkan perahu kertas mereka.

Mereka meletakkan perahu-perahu itu di atas genangan air dan melihatnya melaju perlahan-lahan terbawa aliran air hujan. “Lihat, perahuku berjalan lebih cepat!” seru Syarifah dengan gembira.

Cut tertawa dan mengambil dua batang lidi sapu. “Aku buat ombak kecil supaya perahumu bisa lebih cepat,” katanya sambil mengaduk air perlahan.

“Curang!” teriak Syarifah sambil tertawa. “Kalau begitu aku juga buat ombak!”

Mereka berdua pun berlomba membuat ombak kecil di genangan air, tertawa riang meskipun perahu kertas mereka akhirnya basah dan mulai rusak. Namun, kegembiraan mereka tidak berkurang.

Karena kehebohan dari halaman belakang ayahnya Cut ara pun datang dia merupakan seorang sejarawan. Melihat anak gadisnya bermain perahu, teringat dengan sebuah cerita Pahlawan Aceh

“Cut putriku melihatmu sedang bermain perahu kertas teringat ayah akan sebuah cerita”

“Cerita apa ayah?” tanyanya

“Ceritakanlah Pak cik Syarifah pun mau ikut dengar”Ucapnya dengan penasaran

Ayah pun masuk dan duduk ditikar anyaman yang dibuat oleh ibunya yang seorang pengrajin tikar yang sudah jarang ditemukan mungkin di beberapa wilayah masih memakainya karena bahanya awet. Cut Ara dan Syarifah pun mengikuti ayahnya Cut duduk bersila diatas tikar tersebut. Ayah Cut Ara pun mulai menceritakan kisah Malahayati

“Di sebuah kerajaan indah di ujung pulau Sumatra, hiduplah seorang gadis bernama Malahayati. Sejak kecil, Malahayati sangat suka bermain di tepi laut dan mendengar cerita tentang petualangan para pelaut pemberani. Ayah dan kakeknya adalah kapten kapal yang gagah berani, sehingga Malahayati juga bercita-cita menjadi pelaut hebat seperti mereka.

Suatu hari, ketika Malahayati sudah besar, kerajaan Aceh sedang menghadapi bahaya. Kapal-kapal asing dari negeri jauh datang untuk menguasai perairan Aceh. Raja pun mencari pahlawan yang bisa melindungi kerajaan dan lautnya.

Malahayati dengan berani menghadap sang raja dan berkata, “Izinkan aku memimpin kapal-kapal kita untuk melawan musuh dan menjaga laut Aceh!”

Raja sangat terkesan dengan keberanian Malahayati dan memberinya gelar Laksamana, pemimpin armada kapal perang. Malahayati pun memimpin pasukan yang terdiri dari para janda pahlawan yang hebat, yang disebut Inong Balee. Mereka semua berlatih dengan giat dan siap menjaga laut dari ancaman.

Suatu hari, kapal musuh yang dipimpin oleh seorang kapten bernama Cornelis de Houtman datang menyerang. Malahayati tidak takut sedikit pun. Ia berani bertarung satu lawan satu dengan kapten musuh di atas kapal. Dengan keberanian dan kecerdikannya, Malahayati berhasil mengalahkan musuh dan membuat kapal-kapal asing itu mundur.

Semua orang di kerajaan sangat bangga pada Malahayati. Ia bukan hanya seorang pemimpin yang hebat, tapi juga pahlawan yang melindungi tanah air dan lautnya dengan penuh cinta”.

“Wah Hebat sekali Malahayati itukan Cut!” Ucapnya seru

“Benar bahkan Raja Aceh pun memberi gelar Laksamana pada malahayati, seorang gadis cantik dari Aceh yang pintar dan Pemberani”

“Ya sangat benar ayah harap Cut dan Syarifah pun sama dengan Malahayati tersebut, setelah kalian bermain jangan lupa belajar”

“Baik Ayah”

“Baik Pak Cik”

Setelah puas bermain-main mereka pun belajar seperti yang dikatakan ayahnya agar kedepannya menjadi seorang perempun yang tidak hanya cantik rupawan tapi juga Pintar dan mengharumkan nama bangsa.


Sumber

Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti, Widya Lestari Ningsih, 2024, Artikel, "Biografi Laksamana Malahayati, Laksamana Perempuan Pertama di Dunia", Diakses pada 24 juni, Pada: https://www.kompas.com/stori/read/2024/07/15/090000479/biografi-laksamana-malahayati-laksamana-perempuan-pertama-di-dunia

Tentang Penulis 

Syazwa Nur Maulidina mahasiswa aktif Pendidikan Sejarah di Universitas Syiah Kuala, yang memiliki minat membaca dan menulis. Aktif dalam mengikuti kegiatan penulisan, "Setiap kalimat adalah pengabdian, setiap paragraf adalah langkah menuju perubahan." kalian bisa menyapa di medsosnya Syazwaaaanm_ atau penasyaz_

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Syahrul Gama Mubarak: Kehangatan di Tengah Jauh dari Kampung Halaman

Baitullah di Hati, Istanbul di Jiwa